Saturday, 10 December 2011

Siapa Kaum Muda atau Pemuda Indonesia?

Secara definitif, pemuda Indonesia sering dipersepsikan beragam. Definisi yang satu dengan lainnya berbeda, termasuk rentang usia pemuda. Persepsi tentang pemuda dapat di tinjau dari beberapa sisi yakni: sosiologi, demografi, antropologi, politik, historis dan psikologis. Konsep mengenai adanya pemuda sebenarnya berkembang terutama di Barat, dimana golongan muda mendapat perhatian khusus, tidak dalam arti politis melainkan sebagai golongan konsumtif. Eksistensi pemuda erat hubungannnya dengan masalah belajar, yakni sebelum seseorang masuk ke dalam kesatuan sosial ekonomi.
Gerakan pemuda atau munculnya peranan pemuda dalam masyarakat Indonesia merupakan suatu fenomena khas abad XX. Memang gerakan pemuda di abad XX di Indonesia ini tidak unik sebab juga terjadi di negara-negara Asia lainnya seperti di Cina, India, Burma, Jepang. Dalam masyarakat agraris, seperti juga Indonesia, umumnya kedudukan kaum muda rendah sekali karena terdapat hirarkhi masyarakat berdasarkan umum memberikan tempat yang lebih penting kepada orang tua. Usia tua disamakan dengan pengalaman dan kebijaksanaan. Walaupun sebenarnya, di masyarakat modern tidak ada bedanya, keluarga yang lebih tua juga di beri tempat paling terhormat dan paling berpengaruh. Olehnya, dalam konteks Indonesia, secara historik, pemuda adalah katalisator perubahan, dan memiliki kemampuan dalam mengintegrasikan diri dengan isu orang dewasa, bahkan menjadi orang dewasa itu sendiri.
Dengan mengambil setting Jawa, Geertz menyatakan bahwa diantara kelompok yang paling penting dalam perubahan sosial di Jawa adalah kelompok pemuda. Perluasan pendidikan gaya Barat yang relatif tiba-tiba di Indonesia telah melahirkan suatu kebudayaan pemuda, yang anggota-anggotanya ditandai oleh kegelisahan yang mendalam, suatu ambivalensi yang tajam berhadapan dengan nilai-nilai Jawa tradisional, dan nasionalisme yang intens. Dalam kondisi itu, kebanyakan pemuda di kategorikan sebagai santri, priyayi atau abangan. Sulit dingkari bahwa pemuda, seringkali lebih mirip satu sama lain, tak peduli apapun agamannya. Munculnya kultur pemuda, yang terbentuk dari golongan muda mudi secara intens, idealistis, dan membinggungkan, yang secara tiba-tiba telah diproyeksikan dengan dunia yang belum pernah mereka ciptakan, dan cenderung untuk menggantikan konflik antarpandangan keagamaan itu dengan perang antar generasi.
Sedangkan menurut Anderson, walaupun pemuda di tentukan oleh masyarakat tradisional sebagai tahap tersendiri dalam garis busur kehidupan antara masa kanak-kanak dan dewasa, tetapi pemuda melebihi busur kehidupan itu, dan dengan corak kebudayaannya yang otonom ia membedakan dirinya dari masyarakat tradsional melalui penentangan yang sistematis. Inilah yang dilakukan oleh pemuda Jawa pada zaman revolusi.[8] Agaknya, secara politik, Anderson ingin mendefinisikan pemuda (Indonesia) tidak sekedar katalisator perubahan dan memiliki kemampuan dalam mengintegrasikan diri kedalam isu orang dewasa, tetapi upaya melakukan perubahan yang revolusioner, serta dapat memainkan isu-isu orang dewasa dengan lebih unggul dan radikal.
Dikutip dari http://www.facebook.com/topic.php?uid=56122490669&topic=6979

No comments:

Post a Comment