Sejarah Jurnalistik Berdasarkan Sejarah Bangsa Romawi
Dalam sejarah
Kerajaan Romawi disebutkan bahwa Raja Imam Agung menyuruh orang untuk
membuat catatan tentang segala kejadian penting. Catatan itu itu di buat
dan digantungkan di serambi rumah raja, sebagai pemberitahuan bagi
orang yang lewat dan memerlukannya.
Pengumuaman dengan cara demikian
kembali dilakukan Julius Caesar dalam masa kejayaannya. Saat berkuasa,
Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota
senat setiap hari diumumkan pada “Acta Diurna”. Demikian pula berita
tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa
yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan pengumuman itu
ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut “Forum Romanum”
(Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum.
Berita di “Acta
Diurna” kemudian disebarluaskan. Saat itulah muncul para “Diurnarii”,
yakni orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan tentang hasil
rapat senat dari papan “Acta Diurna” itu setiap hari, untuk para tuan
tanah dan para hartawan.
Dari kata “Acta Diurna” inilah secara
harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “Diurnal” dalam Bahasa Latin
berarti “harian” atau “setiap hari.” Diadopsi ke dalam bahasa Prancis
menjadi “Du Jour” dan bahasa Inggris “Journal” yang berarti “hari”,
“catatan harian”, atau “laporan”. Dari kata “Diurnarii” muncul kata
“Diurnalis” dan “Journalist” (wartawan).
Lambat laun para
“Diurnarii” kemudian menyadari akan pentingnya informasi yang mereka
dapat, hal itulah yang memotivasi mereka untuk menjual catatannya dan
tidak lagi menjadi budak. Para Diurnarri berlomba-lomba mendapatkan
informasi penting secara cepat untuk disebarluaskan, yang kemudian
menimbulkan korban pertama kalinya dalam dunia jurnalistik. Dimana
seorang Diurnarri yang bernama Julius Rusticus dihukum gantung atas
tuduhan mengabarkan berita yang masih belum boleh dikabarkan atau masih
rahasia. Berita itu adalah tentang rencana mutasi seorang pembesar yang
menurut Caesar belum waktunya diberitakan, karena masih dalam
pertimbangan, dan harus hati-hati karena akan timbul bahaya.
Seiring dengan kemajuan teknologi informasi maka yang bermula dari
laporan harian maka tercetak manjadi surat kabar harian. Dari media
cetak berkembang ke media elektronik, dari kemajuan elektronik
terciptalah media informasi berupa radio. Tidak cukup dengan radio yang
hanya berupa suara muncul pula terobosan baru berupa media audio visual
yaitu TV (televisi). Media informasi tidak puas hanya dengan televisi,
lahirlah berupa internet, sebagai jaringan yang bebas dan tidak
terbatas. Dan sekarang dengan perkembangan teknologi telah melahirkan
banyak media (multimedia).
Surat kabar pertama kali terbit di Cina
tahun 911, yaitu Kin Pau. Surat Kabar ini milik pemerintah ketika zaman
Kaisar Quang Soo. Tidak berbeda dengan di Jaman Caesar, Kin Pau berisi
keputusan rapat, hasil musyawarah dan berbagai informasi dari Istana.
Di
Eropa tidak jelas siapa pelopor pertamanya. Namun, padi 1605, Abraham
Verhoehn di Antwerpen Belgia mendapat izin mencetak Nieuwe Tihdininghen.
Akhirnya, pada 1617, selebaran ini dapat terbit 8 hingga 9 hari
sekali.
Beranjak ke Jerman, di tahun 1609, terbitlah surat kabar
pertama bernama Avisa Relation Order Zeitung. Pada 1618, muncul surat
kabar tertua di Belanda bernama Coyrante uytItalien en Duytschland.
Surat kabar ini diterbitkan oleh Caspar VanHilten di Amsterdam. Kemudian
surat kabar mulai bermunculan di Perancis tahun 1631, di Itali tahun
1636 dan Curant of General newsterbit, surat kabar pertama di Inggris
yang terbit tahun 1662.
sumber : http://betetsays.blogspot.com/2011/04/sejarah-jurnalistik.html
No comments:
Post a Comment